Funs Site

Ikon

All about activity

Activity

Pameran Seni Rupa 3 Generasi

Denpasar (Bali Post) –
Eksistensi perhimpunan pelukis Desa Kutuh, Ubud dengan pajangan karya seni yang berkualitas diyakini memberikan corak perkembangan seni budaya Bali, dalam rangka melestarikan budaya Bali sebagai bunga rampainya budaya nusantara. Hal itu disampaikan Kepala Stasiun RRI Denpasar I Gusti Bagus Sudhyatmaka Sugriwa ketika membuka Pameran Seni Rupa 3 Generasi pelukis Kutuh, di Gedung Kriya Taman Budaya Denpasar.

Menurut Sudhyatmaka Sugriwa, pelukis Kutuh perkembangannya cukup pesat dan terus-menerus melakukan inovasi dan memberikan napas baru dalam tradisi melukis Kutuh. Disadari atau tidak, dalam beberapa generasi seni lukis tradisi Kutuh berkembang yang dulunya dicirikan menggambarkan kegiatan upacara dengan ikon barong dan rangdanya, kini hadir dengan ciri khas sendiri.

Kecenderungan yang kemudian muncul, yakni melukiskan keindahan panorama alam plus keanekaragaman satwa yang diwakili oleh sosok burung.

Pameran yang berlangsung 18 April – 18 Mei 2009 itu diawali dengan memutar aktivitas pelukis kutuh meliputi I Nyoman Kleseh (alm), I Ketut Reket, I Nyoman Pelung, I Ketut Tuyasa, I Ketut Karim, I Ketut Tirta, I Wayan Sudiasa, I Ketut Suadnyana, I Wayan Suadi, I Gede Suryawan Eka Putra dan I Wayan Januariawan.

Aktivitas ini, menurut Ketua Panitia I Wayan Januariawan, merupakan kelanjutan dari rangkaian pameran yang telah dilaksanakan di Wantilan RRI Denpasar 10 November – 10 Desember 2008 yang berjudul ‘Kutuh 3G’.

Sekilas mengenai pameran ini, dijelaskan Januariawan, menyuguhkan bagaimana sebuah desa di Ubud berkembang dengan tradisi melukisnya. Sebuah desa yang berada pada pusatnya ingar-bingar dunia kesenian di Bali ini seolah-olah ingin berteriak dan menyatakan pada khalayak bahwa mereka ada dan eksis dalam dunia seni rupa di Bali.

‘Yang pasti pameran ini mencoba bagaimana melakukan estafet kesenian yang berkembang di daerah Kutuh. Kemudian 3 tiga generasi yang dijelaskan lewat jejak-jejak makna yang dikupas dengan cukup lugas,’ tutur Januariawan seraya menambahkan, pameran ini terbuka untuk umum.

Di bagian lain Kasi Dokumentasi dan Informasi Taman Budaya Denpasar Ketut Wijana menuturkan, fasilitas ini milik masyarakat, karena itu terbuka bagi komunitas seni untuk memajang karya-karyanya. ‘Taman Budaya terbuka bagi siapa pun sebagai wadah mengekspresikan seni budaya Bali,’ paparnya. (r/*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: